Perjalanan Mencari Kebenaran: Salman al-Farisi (Siri 1)

jalan-lurus-jalan-tegakSalman dan Kisahnya

Permulaan

Tidak ada seorang pun yang dapat menceritakan kisah Salman lebih baik dari dirinya sendiri. Salman ra menceritakan kisahnya kepada salah seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad saw yang bernama Abdullah bin Abbas ra, yang kemudian menceritakannya kembali kepada yang lainnya[1]. Ibnu Abbas berkata:

Salman berkata, “Aku seorang dari bangsa Persia yang berasal dari Isfahaan[2] dari sebuah desa yang dikenal dengan nama Jayyun. Ayahku adalah penghulu desa. Baginya, aku adalah mahluk Allah yang paling dicintainya. Cintanya kepadaku sampai pada batas dimana dia mempercayaiku untuk mengawasi api[3] yang dia nyalakan. Dia tidak akan membiarkannya mati.”

Ini adalah sebuah petunjuk akan sikap baik seorang anak kepada ayahnya. Disini Salman menggunakan nama yang benar dari Tuhan yang haq, Allah. Nama Allah adalah nama yang sama digunakan oleh seluruh Nabi dan Rasul as. Allah adalah nama Tuhan yang sama dalam bahasa Ibrani dari nabi kita Isa as.

Sebuah Agama yang Berbeda?

“Ayahku memiliki sebidang tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku mengongkongku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”

Munculnya Ketertarikan

“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai shalat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”

Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta.

“Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”

Salman kemudian merenungkan agama ini yang pada saat itu dianggapnya sebagai keimanan yang benar. Sebuah perspektif dari hati yang baik yang terisi kesabaran adalah kemuliaan yang diperlukan untuk membebaskan diri seseorang dari batas-batas pemikiran seperti: “Baiklah saya akan mengambil tahu, tetapi saya sangat sibuk sekarang,” dan lain-lain. Kematian mungkin saja mengetuk pintu lebih cepat daripada yang diharapkan.

“Saya bertanya (yakni kepada orang-orang di gereja), ‘Darimana asal agama ini?”

Mencari tahu asalnya adalah petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencari agama yang benar. Asal dan intisari (pokok) adalah istilah-istilah mendasar yang membantu dalam proses pencarian. Dari mana asal agama Islam dan apa isi pokok (ajarannya)? Islam datang dari Allah swt, Pencipta, Tuhan yang haq, dan intinya adalah berserah diri kepada-Nya.

Mereka menjawab: ‘Dari Syam[4]’. Kemudian saya kembali kepada Ayahku yang sedang khawatir dan mengirim (seseorang) untuk mencariku. Ketika saya tiba dia bertanya. “Wahai anakku! Dari mana engkau? Bukankah aku mempercayakanmu untuk sebuah tugas?” Saya berkata, “Wahai ayah, saya melewati orang-orang yang sedang shalat dalam gereja mereka dan saya menyukai agama mereka. Saya duduk bersama mereka sampai matahari terbenam.’”

Ini adalah kejujuran menakjubkan yang ditunjukkan oleh seseorang yang mengetahui dengan benar bahawa ayahnya sangat komitmen terhadap agamanya. Ini adalah bentuk keterbukaan yang harus dimiliki oleh seseorang yang mencari kebenaran.

Penentangan

“Ayahku berkata, ‘Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu, agamamu dan agama ayahmu dan agama nenek moyangmu lebih baik.’”

Ini adalah topik dari semua orang yang taklid buta dalam perkara keimanan. Ini mengingatkan kita kepada firman Allah swt,

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (QS Al-Fushilat [41] : 26)
“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”.” (QS Az-Zukhruf [43] : 22)

“Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.” (QS Luqman [31] : 22)

“Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS Al-Mu’minuun [23] : 24)

Seringkali, jika anda berbicara dengan orang yang masuk Islam dari agama lain, mereka berkata bahwa mereka mendengar (sesuatu) yang sama (dengan) yang Allah sebutkan mengenai orang-orang kafir. Perkara ini adalah sama. Ia datang dalam bentuk, “Apakah kamu akan meninggalkan agama bapakmu dan nenek moyangmu?” Tidak hanya itu, tetapi orang tua dan keluarga secara luas berdiri berhadapan (maksudnya menentang-pent.) dengan sang muallaf. Besarnya penentangan ini bisa berupa keadaan atau ancaman terhadap kehidupan sampai pada boikot. Ini adalah kecenderungan umum, namun demikian, ada beberapa bahagian penentangan yang sangat sedikit bahkan netral.

“Saya berkata, ‘Tidak, demi Allah, ini lebih baik dari agama kita.’”

Salman mencintai ayahnya, tetapi dia tidak menyanjungnya. Dia tidak berkompromi mengenai apa yang dia rasakan pada saat itu sebagai kebenaran. Apa tanggapan ayahnya?

Salman berkata, “Dia mengancamku, merantai kedua kakiku dan memenjarakanku di rumahnya.”

Seorang ayah menyakiti anaknya tercinta untuk mengubah pendiriannya dari mencari kebenaran. Banyak Nabi ditentang, dituduh, dianiaya oleh anggota keluarganya sendiri kerana penentangan mereka terhadap ‘tradisi turun temurun’! Apakah Salman berhenti sampai disana?

Jalan Keluar

Ia berkata, “Saya mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani tersebut meminta mereka memberi kabar akan kedatangan para pedaganng Nasrani dari Syam. Rombongan pedagang tiba dan mereka mengabariku, maka kukatakan (kepada orang-orang Nasrani tersebut) untuk memberi tahu kapan rombongan pedagang itu menyelesaikan urusannya dan bergerak kembali ke negerinya. (Lalu) saya diberitahu (oleh mereka) ketika orang-orang Syam telah menyelesaikan perdagangan mereka dan bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, maka saya lepaskan rantai dari kakiku dan mengikuti rombongan itu sampai tiba di Syam.”

Dia tidak menyerah pada perintah zalim ayahnya. Dia bertekad untuk mencari kebenaran, yang akhirnya membawanya mengetahui kebenaran mengenai Sang Pencipta, Allah swt.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS Al-Ankabut [29] : 69)

Salman berketetapan hati dan mulai mencari kebenaran, tidak perduli kenyataan bahawa negeri tersebut jauh dan asing baginya. Allah swt, mengetahui kejujurannya, membimbingnya dengan memudahkan baginya untuk mendapatkan sesuatu yang dipergunakan untuk melakukan perjalanan ke Syam.

…bersambung

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. (Penulis menukil hadits ini dan meringkasnya di beberapa tempat –pent.)
[2] Sebuah daerah di Barat Daya Iran.
[3] Ayah Salman adalah seorang Majusi yang menyembah api.
[4] Yang dikenal dengan negara Syam sekarang ini termasuk empat negara, yaitu: Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon.

Dipetik dari karya Dr. Saleh as-Saleh, “Perjalanan Mencari Kebenaran Seorang Lelaki Bernama Salman al-Farisi”.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s