Engkau Dusta!!!

dustaEngkau dusta!!!

Inilah yang mungkin kita luahkan apabila menyedari seseorang berdusta terhadap kita (sabar dan memaafkan itu lebih mulia). Kenalan lama atau sekadar jumpa, dusta tetap dusta. Itulah fitrahnya manusia yang tidak suka suatu yang dusta menjadi kepala, memperlekehkan suatu yang benar lagi nyata. Alangkah bersih fitrahnya. Sensitif. Walau sesama manusia biasa. Yang lemah dan tiada lepas dari membuat silap.

Namun, bagaimana pula reaksi kita jika begini situasinya?

Si Fulan berdusta pada Rasulullah tercinta. Dia mengatakan apa yang tidak Rasulullah saw katakan. Apa yang dia sandarkan kepada Baginda itu tidak benar periwayatannya. Perawinya seorang yang gemar mereka-reka. Jalan sanadnya penuh cacat cela. Sungguh Si Fulan telah berdusta.

Beginikah reaksi kita? Bagi yang mendalami ilmu, sudah pasti mereka mengatakan ‘Engkau Dusta’.

Jika tidak, usahlah tergesa-gesa menerima sebulatnya. Jangan terburu-buru pula menyebarkannya. Lakukan penyelidikan untuk mengetahui keshahihannya. Rujuklah kitab-kitab berkaitan yang dipercaya keahlian penulisnya. Bertanyalah pada para ulama. Sungguh, pasti akan tersingkap tirai dusta. Dan kebenaran pasti berkuasa (Jangan lupa untuk menasihatkan Si Fulan tadi).

Tidak cukupkah ancaman terhadap sesiapa yang berdusta ke atas Baginda.

Dari al-Mughirah ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda,

tempah-neraka

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas salah seorang dari kalian. Barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaknya dia memililh tempat duduknya di Neraka.”[1]

Maka, tidak cukupkah?

Moga bermanfaat.

[1] Shahih. Diriwayat oleh Muslim dan lain-lain. Syaikh Nashiruddin al-Albani berkata, “Ini adalah kekurangan kerana ia diriwayatkan oleh al-Bukhari juga. Padanya terdapat ungkapan yang berisi, “Niyahah” (meratapi orang mati).Dia menyebutkannya dalam Kitab al-Jana’iz, juga dalam Shahih Muslim di tempat lain, ia disebutkan oleh penulis di akhir kitab dan dia menisbatkannya kepada asy-Syaikhain.”

Rujukan: Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam bahagian Anjuran untuk Mendengar Hadis, Menyampai dan Menulisnya, dan Ancaman dari Berdusta atas Nama Rasulullah saw

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s