Sungguh Benar Janji Itu

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya, dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada ada yang memberikannya petunjuk untuknya. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Amma ba’du.

Dari Syaddad bin Al-Had ra, bahawa seorang laki-laki badui datang kepada Rasulullah saw, menyatakan keimanan dan mengikutnya, kemudian ia berkata, “Saya berhijrah bersamamu”, lalu Nabi saw menitahkan kepadanya menjaga beberapa sahabat.

Pada suatu peperangan Nabi saw memperoleh rampasan berupa tawanan. Lalu, Nabi saw membagi-bagi dan memberi bagian untuknya, lalu memberi kepada sahabatnya bagian badui itu; Badui itu bertugas melindungi bagian belakang mereka. Ketika Badui datang, maka mereka memberikan kepadanya. Badui berkata, “Apa ni?” Mereka menjawab, “Bagian yang diberikan Bani saw kepadamu.” Dia mengambilnya dan membawanya menghadap Nabi saw, lalu berkata, “Apa ini?” Nabi saw bersabda, “Saya membaginya untukmu.” Dia berkata, “Bukan kerana hal ini saya mengikutimu. Akan tetapi, saya mengikutimu agar saya terkena anak panah di sini –sambil menunjukkan tenggorokannya- sehingga saya masuk syurga” Maka Nabi saw bersabda,

“Jika kamu membenarkan Allah, maka Ia akan membenarkanmu.”

Lalu mereka tinggal sebentar, sebelum kemudian mereka berangkat berperang melawan musuh. Setelah itu, ia dipanggul menghadap Nabi saw dalam keadaan terkena anak panah pada tempat yang ia tunjuk. Nabi saw bersabda, “Apakah betul ini dia?” Sahabat menjawab,”Betul.” Nabi saw bersabda, “Dia membenarkan Allah, maka Allah membenarkannya.”

Kemudian Nabi saw mengkafaninya dengan jubah Nabi saw. Beliau maju ke depan dan menyalatinya. Termasuk yang terdengar dari doanya adalah;

“Ya Allah ini hamba-Mu, dia keluar berhijrah dan terbunuh syahid, saya menjadi saksi atas hal tersebut.”[1]

Ini merupakan sebuah kisah daripada selautan kisah-kisah tentang keperibadian para sahabat r.anhum. Kita menilai melalui kisah laki-laki Badui ini sebagai suatu bukti kepada beberapa tingkatan sikap benar (yakni jujur).

Bermula dari ikrar keislamannya yang membenarkan tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, hanya Dia yang satu dan Rasulullah saw itu hamba dan utusan Allah. Kemudian membenarkan lagi ikrarnya dengan mengikuti hijrah bersama Rasulullah saw dan menyertai peperangan bersama Baginda saw demi mempertahankan eksistansi Islam. Apabila peperangan dimenangi, maka rampasan pun dibagikan bagian untuknya. Namun dengan lidahnya sang Badui itu membenarkan ikrarnya lagi dengan berkata, “Bukan kerana hal ini saya mengikutimu.” Lalu disuguhkan sebab dengan yakin kenapa ia bersikap sedemikian. “Akan tetapi, saya mengikutimu agar saya terkena anak panah di sini (tenggorokannya) sehingga saya masuk syurga.” Maka sang Badui terus berjuang (membenarkan) bersama Allah dan Rasul-Nya sehingga ia dibenarkan oleh Allah swt dengan kesyahidan.

Maka benarlah firman Allah swt;

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (apa yang telah Allah janjikan kepadanya) dan mereka tidak sedikit pun merobah (janjinya),” (Al-Ahzab: 23)

Dan begitulah gerak orbit para mujahid hari ini. Di antara mereka ada yang sudah membenarkan apa yang mereka janjikan kepada Allah. Mereka syahid di jalan Allah. Dan di antara mereka juga ada yang menanti-nanti janji Allah. Mereka tidak goyah dan tidak berubah kerana itulah sikap mereka. Mereka membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Lidah mereka membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Hati mereka juga membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Tingkah mereka turut membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Maka tiadalah selepas itu melainkan datangnya janji Allah swt. Janji yang benar. Siapakah yang lebih benar janjinya melainkan Allah?

Tidak mahukah kita akan janji-janji itu?

Moga bermanfaat.

[1] HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Al-Albani menghukuminya shahih dalam Shahih al-Jami’, 1415.

Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat oleh Syaikh Mahmud Al-Mishry, Bab Jalan Menuju Husnul Khatimah, hlm. 63-64.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s