Begini Islam Memperingati Jasa Pahlawan

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya, dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada ada yang memberikannya petunjuk untuknya. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Amma ba’du.

Beberapa hari yang lepas, Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin telah mengeluarkan kenyataan (baca: peringatan) tentang Upacara Tugu Negara bersempena Hari Pahlawan. Peringatan tersebut sangatlah bermanfaat kerana saya yakin ramai yang tidak mengetahui dan memandang enteng akan hal yang berkaitan dengan patung seperti tugu peringatan.

Untuk memahami dengan benar akan hal yang berkaitan dengan patung dan isu-isu di sekitarnya, di sini saya sertakan penjelasan dalil oleh seorang ulama yang inysaAllah akan memperkukuhkan keyakinan dan amal kita.

ISLAM MENGHARAMKAN PATUNG
(oleh Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam)

Islam mengharamkan patung-patung di dalam rumah tangga Islam, yakni gambar-gambar bertubuh yang dihormati. Karena adanya patung-patung ini di dalam rumah menyebabkan malaikat menjauh dari rumah itu, padahal malaikat itulah yang akan membawa rahmat dan keridhaan Allah kepada keluarga rumah tersebut. Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada patung.”[a]

Para ulama berkata, “Malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya ada patung, karena pemiliknya menyerupai orang kafir. Orang-orang kafir itu memasang patung di rumah mereka dan mengagung-agungkannya. Malaikat benci perbuatan ini, dan tidak mau masuk ke dalam rumah tersebut bahkan menjauhinya.”

Maka Islam mengharamkan orang Muslim bekerja sebagai pembuat patung, meskipun dia bekerja untuk orang non Muslim. Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya di antara orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat ialah orang yang menggambar gambar-gambar ini.” Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.”[b]

Rasulullah saw juga memberitahukan dengan sabdanya:

“Barangsiapa membuat gambar (patung) maka pada hari kiamat nanti Allah akan memaksanya agar meniupkan ruh padanya, padahal selamanya dia tidak akan dapat meniupkan ruh itu padanya.”[c]

Maksud hadits ini, dia akan dituntut untuk menghidupkan patung tersebut. Tuntutan ini sebenarnya hanya untuk menghina dan menyatakan ketidakmampuan, sebab dia tidak mungkin bisa melakukannya.

HIKMAH DIHARAMKANNYA PATUNG
1 Di antara rahasia diharamkannya patung -dan ini bukan alasan hukum satu-satunya sebagaimana anggapan sebagian orang- adalah untuk menjaga tauhid dan menjauhkan umat dari menyerupai kaum penyembah berhala yang membuat patung-patung dan berhala itu, kemudian mereka mengagungkan dan berdiri di depannya dengan penuh khusyu’.

Sensitifitas Islam untuk melindungi tauhid dari segala bentuk penyerupaan terhadap penyembahan berhala telah mencapai puncaknya. Tindakan hati-hati dan sensitif yang diambil oleh Islam ini merupakan tindakan yang benar. Dalam hal ini, di antara umat-umat terdahulu ada yang membuat patung-patung orang yang sudah meninggal dan orang-orang saleh mereka untuk mengenang mereka. Tetapi setelah waktu berlalu, mereka mensakralkannya sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya dijadikan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah, diharapkan, ditakuti, dan dimintai keberkahan, sebagaimana terjadi pada kaum Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Karena itu, tidak heran jika agama (Islam) yang dasar-dasar syari’atnya mengambil tindakan preventif terhadap semua jalan kerusakan, menutup semua celah yang menjadi tempat masuknya kemusyrikan yang nyata atau yang tersembunyi ke dalam akal dan hati, atau perbuatan menyerupai para penyembah berhala dan pemeluk agama yang melampaui batas. Apalagi Agama (Islam) itu sendiri tidak disyari’atkan untuk satu atau dua generasi saja, melainkan untuk manusia secara keseluruhan di seantero dunia hingga hari kiamat. Sebab sesuatu yang kini dianggap jauh (tidak diterima) oleh suatu lingkungan dapat diterima di lingkungan yang lain, dan sesuatu yang dianggap mustahil pada suatu waktu bisa nienjadi kenyataan pada waktu yang lain.

2 Rahasia diharamkannya patung bagi pembuatnya karena si pembuat patung tersebut dapat terperdaya, sehingga dia merasa seolah-olah mampu menciptakan suatu makhluk yang tadinya belum ada, atau dapat menciptakan makhluk hidup dari tanah.

Diceritakan bahwa salah seorang pemahat patung membuat patung dalam waktu yang lama. Setelah selesai, dia berdiri di hadapanuya dengan mengagumi setiap bagian dan potongannya, sehingga seolah-olah dia hendak berkata dengan sombong, “Hai patung, berbicaralah…, berbicaralah…!”

Oleh karena itu Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang menciptakan patung-patung ini akan disiksa pada hari kiamat, seraya dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu!”‘[d]

Di dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang hendak menciptakan sesuatu seperti ciptaan-Ku? Karena itu cobalah mereka membuat sebutir dzarrah (atom) atau membuat sebutir gandum!”[e]

3 Orang orang yang berprofesi dalam seni pahat ini tidak berhenti pada batas tertentu saja, bahkan mereka melukis wanita-wanita telanjang atau semi telanjang. Mereka melukis lambing-lambang keberhalaan dan simbol agama-agania lain seperti salib, berhala, dan lain-lainnya yang tidak boleh diterima oleh seorang Muslim.

4 Lebih dari itu, patung-patung ini senantiasa menjadi simbol kemegahan orang yang berlebihan. Mereka memenuhi istana mereka dengan patung-patung tersebut. Mereka menghiasi kamar-karnar mereka dengan patung-patung itu. Mereka membuat seni pahat dari berbagai bahan tambang yang beraneka macam.

Karena itu, tidak terlalu jauh jika agarna Islam yang memerangi sikap mewah dalam segala bentuk dan coraknya – seperti emas, perak, dan sutera – itu mengharamkan patung di rumah orang Muslim.

CARA ISLAM MENGABADIKAN ORANG-ORANG BESAR
Kemungkinan akan ada orang yang berkata: Apakah tidak tepat apabila umat Islam berusaha mengenang para pembesarnya yang telah mengukir lembaran Sejarah melalui amal perjuangan mereka, dengan dibuatkan patung agar dikenang oleh generasi mendatang bahwa mereka adaah orang-orang yang berjasa dan telah membangun kemuliaan. Sebab daya ingat bangsa seringkali lemah, pergantian siang dan malam (perjalanan waktu) pun sering menjadikan orang lupa.

Untuk menjawab persoalan ini perlu ditegaskan bahwa Islam tidak menyukai tindakan berlebihan di dalam menghormati seseorang – bagaimana pun martabatnya – baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal dunia. Nabi saw bersabda:

“Janganlah kamu menghormati aku seperti orang-orang Nasrani menghormati Isa putra Maryam. Akan tetapi katakan bahwa aku adalah hamba Allah dan pesuruh-Nya.”[f]

Para sahabat pernah bermaksud hendak berdiri apabila melihat beliau, sebagai penghormatan kepada beliau dan untuk mengagungkan kedudukan beliau. Tetapi beliau melarang cara semacam itu seraya bersabda:

“Janganlah kamu berdiri (untuk menghormati aku) sebagaimana orang-orang Ajam (non-Arab) berdiri untuk mnghormati satu sama lain.”[g]

Nabi saw mewanti-wanti umatnya agar jangan bersikap berlebih-lebihan terhadap dirinya sepeninggalannya nanti. Nabi saw bersabda:

“Janganlah kamu jadikan kuburku sebagai tempat berhari raya.”[h]

Nabi saw juga berdo’a kepada Tuhannya:

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.”[i]

Ada beberapa orang yang datang kepada Nabi saw, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, wahai sebaik-baik orang di antara kami dan putra sebaik-baik orang di antara kami. Penghulu kami dan putra penghulu kami!” Kemudian Nabi saw bersabda:

“Hai manusia, ucapkanlah seperti ucapanmu yang biasa atau hampir seperti ucapanmu yang biasa itu, jangan sekali-kali kamu dapat diperdayakan oleh syetan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan pesuruh-Nya. Aku tidak suka kamu menjunjung aku lebih dari kedudukan yang telah diberikan Allah kepadaku.”[j]

Agama Islam yang memiliki sikap seperti ini di dalam menghormati manusia sudah barang tentu tidak akan rela jika dipancangkan patung-patung monumental untuk mengenang orang-orang tertentu dengan biaya yang sangat besar, agar orang-orang memberikan penghormatan kepadanya.

Seringkali para pemimpin gadungan dan pemalsu sejarah ini masuk dari pintu yang terbuka bagi setiap orang yang mampu melakukannya, atau bagi para pengikut dan para anteknya yang mampu membuat monumen palsu ini. Dengan demikian mereka dapat menyesatkan masyarakat dari tokoh-tokoh yang sebenarnya.

Kenangan sejati yang diinginkan orang-orang beriman adalah kenangan di sisi Allah yang Maha Mengetahui segala rahasia dan yang tersembunyi, yang tidak pernah tersesat dan tidak pernah lupa. Betapa banyak tokoh yang ditulis dalam catatan keabadian di sisi Allah, tetapi mereka tidak dikenal di sisi makhluk. Hal itu karena Allah suka kepada orang-orang yang shalih dan bertaqwa, yang apabila mereka hadir tidak dikenal, dan apabila tidak hadir tidak ada yang merasa kehilangan.

Jika memang perlu dikenang oleh orang banyak, maka caranya bukan dengan membuat patung bagi para pembesar itu. Cara yang paling tepat dan diridhai Islam dalam mengabadikan mereka itu ialah di dalam hati dan pikiran, melalui lisan dengan menceritakan kebaikan, amal usaha mereka dan peninggalan-peninggalan baik mereka. Dengan demikian mereka akan selalu menjadi sebutan orang-orang belakangan.

Rasulullah saw, para khalifahnya, para pemuka Islam, dan para imam tidak diabadikan dengan bentuk materi dan dipahatkan patung untuk mereka. Tidak, sama sekali tidak demikian. Keabadian mereka hanya semata-mata karena sifat-sifat baik (manaqib) yang diceritakan orang-orang salaf (generasi terdahulu) kepada orang-orang khalaf (generasi belakangan), diceritakan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya. Cerita mereka itu tertanam dalam hati, disebut-sebut dengan lisan, mengharumkan majlis-majlis dan pertemuan-pertemuan, dan memenuhi pikiran dan hati, tanpa diwujudkan dalam bentuk gambar dan patung.

Untuk memperjelas hal ini Prof. Muhammad al-Mubarak, Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus menyampaikan kalimat yang bagus dalam suatu pidato yang disampaikannya di Universitas al-Azhar dengan tema Menuju Pemikiran Islam yang Baru, sebagai berikut: “Kita sedang menghadapi pemikiran-petnikiran, tatanan, dan kebiasaan masyarakat baru yang sudah banyak memasuki kehidupan sosial kita…, di antaranya ada yang tidak sesuai dengan aqidah kita yang shahih dan prinsip-prinsip akhlak yang lurus. Misalnya cara yang ditempuh orang-orang Eropa dan Amerika di dalam mengabadikan pahlawan mereka dengan membuat patung-patung untuk mereka. Kalau kita perhatikan hal ini dengan pandangan yang bebas dari ketundukan kepada peradaban Barat, dan kita pikirkan dalam-dalam untuk mengabadikan peninggalan-peninggalan dan kemuliaan-kemuliaan orang terdahulu, niscaya akan kita dapati bahwa bangsa Arab khususnya tidak mengabadikan pembesar-pembesar dan tokoh-tokoh mereka melainkan hanya kemuliaan dan amal perbuatan mereka yang baik dan mulia, seperti kesetiaan, kedermawanan, dan keberanian mereka. Dan untuk mengabadikan semua itu cukup dengan menceritakan kepahlawanan mereka dan menceritakannya dari generasi ke generasi, atau dengan menyusun syair (puisi) untuk memuji dan menyanjung mereka. Dengan cara seperti ini sudah tentu kemuliaan dan keberanian mereka terabadikan, dan Islam pun menerima cara seperti ini.

Maka ketika Islam datang, dipertegaslah hal ini, dan dijadikannya manusia yang paling mulia dan penutup para rasul itu hanya manusia biasa: “Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu.” Dan manusia itu dinilai menurut amalnya, bukan diukur dengan fisiknya. Rasul dijadikan sebagai teladan panutan manusia, dan dilarang mensakralkan manusia dan mengagungkan mereka dengan penghormatan yang menyerupai ibadah dengan merendahkan harkat orang lain (yang mengagungkan dan menghormatinya).

Oleh karena itu ketika Rasulullah saw. berpulang ke hadirat Allah, khalifah yang pertama (Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.) berseru, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Hidup dan tidak akan pernah mati.” Kemudian dia membaca firman Allah (yang artinya):

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah kalau dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Ali Imran : 144).

Islam mengabadikan manusia dengan amal-amal salehnya yang bermanfaat; dan dikekalkannya di dalam hati kaum Muslimin – golongan khusus ataupun golongan awam, tokoh-tokoh Islam, sehingga orang-orang kecil dan orang-orang besar mengenal Umar dengan keadilannya; mengenal Abu Bakar dengan keteguhan dan kebijakannya, Ali dengan zuhud dan keberaniannya, dan tidak ada seorang pun yang mencari-cari alasan untuk membuat patung dari batu agar mereka dikenang manusia.

Mengabadikan manusia dengan membuat patungnya dari batu dan sebagainya adalah suatu kemunduran dan menurunkan martabat. Cara itu dulu ditempuh orang-orang Romawi, Yunani, dan orang-orang Eropa sesudah itu, karena mereka semua berkarakter keberhalaan, lebih rendah akhlak dan penghargaannya terhadap nilai-nilai akhlak daripada bangsa Arab dan kaum Muslimin. Bahkan karena ketidakmampuannya melukiskan perumpamaan yang tinggi bagi pahlawannya, mereka lantas menyamakan pahlawan-pahlawan itu dengan tuhan, dan mereka jadikan tuhan-tuhan itu sebagai pahlawan.

Ringkasnya, tidak layak bagi kita untuk mengikuti pemikiran orang asing yang lebih rendah daripada pemikiran kita dalam masalah ini. Jangan sampai kita mengubah hukum Islam tentang haramnya membuat patung-patung ini, karena tindakan itu membahayakan jiwa dan akhlak.”

Semoga bermanfaat.

Nota Kaki:
[a] Bukhari dan Muslim. Lafal ini riwayat Muslim. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 118.
[b] Muttafaq’alaih. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 119.
[c] Diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no.120.
[d] Muttafaq’alaih. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no.121.
[e] Muttafaq’alaih. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 122.
[f] Diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 123.
[g] Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 124.
[h] Diriwayatkan oleh Abu Daud. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no. 125.
[i] Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no.126.
[j] Diriwayatkan oleh Nasai dengan isnad yang bagus. Takhrij oleh al-Albani dalam kitab al-Halal wal-Haram fil- Islam no.127.

Sumber: Kitab al-Halal wal-Haram fil-Islam karangan Dr. Yusuf Qardhawi dan telah ditakhrij oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

2 thoughts on “Begini Islam Memperingati Jasa Pahlawan

  1. Assalamualaikum wr wb

    salam silaturrahmi dari Indonesia

    artikelnya sangat bermanfaat. jazakillah khairan katsiran.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s