Dua Puluh Empat Jam

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya, dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada ada yang memberikannya petunjuk untuknya. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Amma ba’du.

Antara bukti akal yang membenarkan sifat kesempurnaan Allah adalah Maha AdilNya dalam menganugerahkan masa yang sama panjang bagi setiap hambaNya di dunia. Saya dan kamu, atau sesiapa sahaja semuanya dipinjamkan masa sebanyak 24 jam untuk setiap hari. Dan tiadalah setiap kurniaan itu sama ada kesenangan atau kesusahan melainkan ujian bagi setiap hamba di dunia. Masa adalah sebahagian dari kurniaan Allah tersebut. Dengan kurniaan masa tersebut, Allah Taala menguji setiap dari hambaNya ke arah mana mereka memanfaatkan masa di dunia yang begitu singkat ini untuk keselamatan masa selepas kematian yang kekal abadi.

Oleh itu, merupakan kewajipan atas setiap daripada kita (saya dan kamu) untuk menguruskan nikmat masa dengan sebaik mungkin. Tidaklah apa yang saya maksudkan di sini seperti apa yang kebanyakan manusia fikirkan. Maksud saya di sini adalah seperti apa yang Allah Taala telah tunjukkan melalui KalamNya.

Dalam entri ini saya sertakan penafsiran Surah Al-‘Ashr oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Tafsir Juz ‘Ammanya kerana surah inilah petunjuk bagi kita untuk memanfaatkan masa dengan sebaik mungkin. Semoga bermanfaat.

Dengan menebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Allah swt, berfirman:

<blockquote>”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,” (QS. 103 : 1-2).

Allah Ta’ala bersumpah dengan al ‘ashr. Dikatakan bahwa, yang dimaksud dengan al-‘ashr ialah waktu sore, dan waktu yang terbaik. Rasulullah saw menamakan shalat ashar dengan nama shalat al-wustha, artinya yang terbaik.[a]

Dikatakan juga bahwa al ‘ashr ialah zaman (masa). Ini adalah pendapat yang lebih benar. Allah bersumpah dengan masa, karena setiap perubahan kondisi, berputar baliknya suatu urusan, pergantian hari yang silih berganti dan lain-lain yang terjadi di dalam ruang lingkup masa (zaman), baik yang kita saksikan sekarang atau yang sudah berlalu. Al-‘ashr ialah masa yang mana makhluk berada di dalamnya dengan mengalami perubahan seperti senang, susah, perang, damai, sehat, sakit, beramal shalih atau jahat dan lain-lain yang sudah dimaklumi bersama.

Allah Ta’ala bersumpah atas perkataan-Nya, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. Al insan di sini bersifat umum. Karena menunjukkan jenis. Tanda yang menunjukkan keumuman adalah alif lam yang bermakna kullu (semua). Makna ayat yang mulia tersebut ialah, Allah Ta’ala bersumpah bahwa manusia senantiasa berada dalam kerugian dan kekurangan dalam segala keadaannya di dunia dan di akhirat, terkecuali orang-orang yang dikecualikan Allah swt. Jumlah (kalimat) ini dikuatkan dengan tiga huruf penegas. Pertama: sumpah, kedua: huruf inna, ketiga: lam at taukid. Kemudian diteruskan dengan firman-Nya: “benar-benar berada dalam kerugian”. Kalimat ini lebih tegas daripada lakhasirin sebab huruf fi azh zharfiyyah mengisyaratkan bahawa manusia tenggelam dalam kerugian. Yaitu kerugian yang senantiasa menyelimutinya dari segala sisi.

Firman Allah:

<blockquote>”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103 : 3).

Allah Ta’ala mengecualikan orang-orang yang mempunyai empat kriteria. Kriteria yang pertama yaitu: Keimanan yang tidak dicampuri dengan keraguan dan kebimbangan terhadap perkara iman yang dijelaskan Rasulullah saat ditanya Jibril. Rasulullah menjelaskannya ketika Jibril datang dan bertanya tentang iman, Rasulullah bersabda: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan beriman kepada qadar baik dan buruk. “[b] Penjelasan hadits ini sangat panjang dan telah kita terangkan diberbagai tempat.[c] Siapa yang beriman dengan prinsip yang enam ini, merekalah yang disebut orang yang beriman. Keimanan tersebut harus bersih dari keraguan dan kebimbangan. Artinya, engkau beriman dengan rukun yang enam ini, seolah-olah engkau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Dalam permasalahan ini, manusia terbagi menjadi tiga:

Pertama: mereka yang mempunyai keimanan yang murni tanpa keraguan sedikit pun.
Kedua: orang kafir yang mengingkari rukun tersebut.
Ketiga: mereka yang masih ragu dengan rukun tersebut.

Yang selamat di antara tiga golongan ini ialah golongan yang pertama yang mempunyai keimanan dengan tanpa keraguan. Beriman akan adanya Allah, kerububiyahan-Nya, keuluhiyahan-Nya, dengan nama dan sifat-sifat-Nya. Beriman kepada para malaikat yang ada di alam ghaib. Allah Ta’ala menciptakan mereka dari cahaya dan memberi mereka tugas-tugas, baik yang kita ketahui maupun tidak.

Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu dari Allah Ta’ala kepada para nabi dan rasul. Malaikat Mikail bertugas mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan. Yakni, Allah Azza wa Jalla memberinya tugas untuk mengatur hujan serta hal-hal yang berkaitan dengan hujan dan juga mengatur tumbuh-tumbuhan. Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala. Malaikat Malik bertugas menjaga naar. Malaikat Ridhwan bertugas menjaga jannah. Dan ada di antara para malaikat yang tidak kita ketahui nama dan tugasnya. Sebagaimana yang tertera di dalam hadits Rasulullah bahwa tidak ada tempat dilangit meskipun hanya selebar empat jari kecuali di sana ada malaikat yang sedang berdiri menyembah Allah, atau sedang rukuk atau sujud.[d]

Begitu juga kita wajib beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada para rasul-Nya ‘Alaihimus Shalatu was Salam. Kita juga wajib beriman dengan para rasul yang telah diceritakan Allah kepada kita secara terperinci. Adapun yang tidak diceritakan kisahnya kepada kita, maka kita mengimaninya secara global. Sebab, ada nabi dan rasul yang tidak diceritakan Allah kepada kita. Allah berfirman:

“…di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. 40 : 78).

Kemudian beriman dengan hari akhirat yaitu hari berbangkit. Pada saat itu manusia keluar dari kuburannya untuk diberi balasan, mereka akan digiring dalam keadaan hufatan, ‘uratan, gharlan, buhman. Hufat yaitu tidak memakai alas kaki. ‘Urat: tidak memakai pakaian. Gharl: tidak berkhitan. Buhm: tidak mempunyai harta. Ketika Rasulullah saw menceritakan kepada `Aisyah bahwa manusia digiring tanpa pakaian ia berkata: “Ya Rasulullah! Apakah Lelaki dan wanita nanti tidak saling melihat?” Rasulullah menjawab: “Ada urusan yang lebih besar dari yang demikian itu.”[e] Yaitu dari pada urusan saling melihat. Karena masing-masing sedang sibuk dengan urusannya sendiri.

Berkata Syeikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Beriman dengan hari akhirat yaitu beriman dengan setiap yang diberitakan Rasulullah tentang apa yang terjadi setelah kematian. Engkau wajib beriman dengan adanya adzab kubur yakni adanya ujian setelah mayat dikebumikan dan pulangnya para pengantar. Ia akan didatangi dua malaikat yang bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya.

Engkau juga wajib mengimani bahwa kuburan adalah salah satu dari taman jannah atau salah satu dari lubang naar. Artinya, di alam kubur ada adzab dan juga nikmat. Kemudian kamu wajib beriman dengan adanya jannah dan naar. Semua yang berkaitan dengan hari akhirat termasuk dalam pembahasan iman kepada Allah dan hari akhirat.

Dan Al-Qadar ialah takdir Allah Azza wa Jalla, yakni engkau wajib mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan qalam (pena) dan berkata: “Tulislah!” Pena tersebut bertanya: “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah segala yang ada sampai Hari Kiamat.” Maka tertulislah pada saat itu apa yang terjadi sampai Hari Kiamat.[f] Kesimpulannya bahwa kata iman yang tertera dalam ayat “kecuali orang-orang yang beriman” mencakup keimanan terhadap enam rukun iman yang telah dijelaskan Rasulullah saw.

Adapun firman Allah Ta’ala: “dan mengerjakan amal shalih” Maknanya adalah mereka melakukan amal-amal shaleh, di antaranya: shalat, zakat, shaum, haji, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahmi dan lain sebagainya. Tidak cukup hanya di dalam hati, bahkan harus mengamalkannya.

Amal shalih mencakup dua hal:

1. Ikhlas karena Allah Taala.
2. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Sesungguhnya setiap amal yang tidak dilandasi keikhlasan kepada Allah, akan tertolak.

Di dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Nabi , Allah berfirman:

“Aku adalah Dzat yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang menyekutukan Aku dalam amalannya maka aku akan meninggalkannya dan sekutunya.”
[g]

Jika engkau shalat, bersedekah, menuntut ilmu, bersilaturahmi dan yang lainnya karena ingin dilihat oleh orang, maka amal ter¬sebut tertolak, walaupun pada lahirnya merupakan amalan shalih. Begitu juga dalam meneladani rasul. Jika engkau melakukan suatu amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan niat yang ikhlas karena Allah tetapi tidak pernah dilakukan Rasulullah saw, maka amal tersebut juga tidak akan diterima darimu. Sebab Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa melakukan amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya tertolak. “[h]

Kesimpulannya, suatu amal dikatakan shalih, jika memenuhi dua syarat:

Pertama: ikhlas karena Allah Ta’ala.
Kedua: mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Firman Allah: “dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran” yaitu saling menasehati untuk mentaati kebenaran. Kebenaran ialah syariat. Yakni, masing-masing saling menasihati, jika ia melihat ada yang melalaikan kewajiban, maka ia memberinya nasihat: “Wahai saudaraku, laksanakanlah kewajibanmu!” Dan jika ada yang melakukan hal yang diharamkan, maka ia memberinya nasihat: “Wahai saudaraku, jauhilah hal-hal yang diharamkan!” Sehingga mereka tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Firman Allah: “dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” yaitu satu sama lain saling menasehati agar tetap bersabar. Sabar ialah menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak layak. Para ulama membagi sabar menjadi tiga macam:

1. Sabar dalam mentaati Allah Ta’ala.
2. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.
3. Sabar terhadap takdir Allah Ta’ala.

Sabar dalam mentaati Allah, misalnya: banyak manusia yang malas dalam melaksanakan shalat berjamaah, tidak mau ke masjid, katanya: “Saya shalat dirumah saja. Saya kan juga telah melaksanakan kewajiban shalat,” sehingga ia malas berjamaah. Hendaklah dikatakan kepadanya: “Wahai saudaraku! Sabarkanlah dirimu! Tetaplah shalat berjamaah!”

Kebanyakan manusia jika melihat zakat hartanya banyak, akan menjadi pelit dan ragu untuk membayarnya; apakah akan aku keluarkan zakat harta sebanyak ini atau tidak? Dan ungkapan semisal. Maka hendaklah dikatakan kepadanya: “Wahai saudaraku, bersabarlah untuk selalu membayar zakat”. Begitu juga de¬ngan ibadah-ibadah yang lain. Karena ibadah itu adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala tentang shalat:

“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’…” (QS. 2 : 45).

Kebanyakan hamba merasa berat dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, mereka harus saling menasehati dalam mentaati Allah Ta’ala.

Begitu juga sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat. Misal¬nya sebagian orang telah berkecimpung dalam usaha yang diharamkan Allah Ta’ala, seperti riba, penipuan, kecurangan dan hal-hal lain yang diharamkan Allah Ta’ala. Hendaklah dikatakan ke¬padanya: “Sabarlah wahai saudaraku, jangan engkau bermua¬malah dengan cara yang haram.” Ada yang mempunyai kebiasaan memandang wanita. Kamu dapati orang seperti ini senang berjalan-jalan di pasar, setiap kali ada wanita melintas ia akan mengamatinya. Hendaklah dikatakan padanya: “Bersabarlah wahai saudaraku, jauhilah hal ini.”

Begitu juga saling menasehati untuk bersabar menghadapi takdir Allah. Mungkin seseorang terserang sakit, atau hartanya hilang, atau ada di antara orang yang dicintainya meninggal, sehingga ia panik, marah dan berduka. Maka hendaklah satu sama lain saling menasihati: “Sabarlah wahai saudaraku, ini semua sudah ketentuan Allah. Kepanikan tidak akan bermanfaat sedikitpun. Larut dalam kedukaan tidak akan mengobati hati yang sedih.”

Seseorang diuji dengan meninggalnya anaknya. Hendaklah dikatakan kepadanya: “Sabarlah wahai saudaraku, anggap saja anakmu belum pernah diciptakan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada salah seorang putrinya:

“Sesungguhnya hanya milik Allah-lah apa yang telah Dia ambil dan yang telah Dia berikan. Segala sesuatu itu mempunyai ajal yang telah ditentukan, suruhlah ia agar bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala. “[i]

Semua urusan itu berada di tangan Allah Ta’ala. Jika Dia mengambil kepunyaan-Nya, bagaimana kamu dapat menghalangi dan memarahi-Nya?

Jika dikatakan: Manakah jenis sabar yang paling susah untuk dilakukan?

Jawabannya: berbeda-beda. Sebahagian orang sangat kesulitan untuk melaksanakan ketaatan. Sebahagian lagi malah sebaliknya,

mudah untuk melaksanakan ketaatan, tetapi sulit untuk meninggalkan kemaksiatan. Ada juga sebahagian orang yang mudah untuk sabar di atas ketaatan dan sabar dalam menjauhkan dirinya dari kemaksiatan, tetapi tidak dapat bersabar ketika mendapat musibah, jiwanya menjadi tergoncang bahkan dapat menyeretnya ke¬luar dari Islam. Wal ‘iyaadzu billah. Sebagaimana firman Allah swt:

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. 22 : 11).

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita ambil dari surat Al-‘Ashr ini adalah, Allah swt telah menegaskan sumpah-Nya dengan huruf taukid inna dan lam bahwasanya seluruh manusia berada dalam kerugian. Kerugian tersebut mengelilinginya dari segala sisi, kecuali yang mempunyai empat kriteria ini: beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam mentaati kebenaran dan saling menasihati dalam menapaki kesabaran.

Berkata Imam Syafi’i rahimahullah: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas hamba-Nya selain surat ini, niscaya telah cukup untuk mereka.” Artinya, sudah cukup bagi mereka sebagai peringatan dan dorongan agar mereka berpegang teguh dengan keimanan, beramal shalih, berdakwah kepada Allah dan tetap sabar dalam mengembannya. Jadi tidak berarti bahwa surat ini telah mencukupi manusia dalam syariat agama secara keseluruhan, namun sudah memadai sebagai peringatan.

Setiap manusia yang berakal mengetahui bahwa ia berada dalam kerugian kecuali dengan mempunyai empat kriteria ini. Sehingga ia akan berusaha dengan segenap potensi yang ada untuk memiliki sifat ini, agar terlepas dari kerugian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[a] hingga [i] adalah nota kaki untuk takhrij hadits. Sila rujuk kitab asal.

p/s: Sila rujuk Al-Quran bagi ayat-ayatnya.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s